Connect with us
PERTAMINA

Asuransi

Asuransi BUMN Caplok 40% Pangsa Pasar

MediaBUMN

Published

on

Rencana kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membentuk perusahaan holding asuransi BUMN diharapkan dapat selesai pada Semester II tahun ini. Diharapkan pula, induk sektor asuransi memiliki market share sebesar 40%

Proses tersebut masih dalam tahap persiapan sebelum nantinya resmi dapat beroperasi. Direktur Operasi Ritel PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Sahata L. Tobing mengatakan bahwa Jasindo menjadi salah satu bagian dari holding asuransi BUMN tersebut.

Dengan adanya holding tersebut, jelas Sahata, artinya akan semakin kuat dari struktur keuangan, permodalan, bisnis, dsb. Diharapkan nantinya dapat berkembang hingga ke kancah internasional.

“Jika dilihat dari sisi konsep, pembentukan holding ini dapat mencaplok 40% pangsa pasar, dengan demikian akan semakin kuat,” ujarnya.

Sementara itu Direktur Eksekutif AAUI (Asosiasi Asuransi Umum Indonesia) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengungkapkan bahwa pembentukan holding tersebut tidak akan mengganggu perusahaan yang tidak ikut serta dalam holding tersebut.

“Masing-masing memiliki spesialis dalam berbisnis. Saya tidak khawatir karena pasarnya juga tidak head to head dengan asuransi BUMN,” ujarnya.

Menurut Dody, meskipun ada yang menganggap pem bentukan holding asuransi BUMN ini akan memonopoli, namun ia berkeyakinan bahwa setelah resmi berjalan tidak akan demikian. Meski belakangan ada kekhawatiran ada penentuan tarif dari holding asuransi BUMN sehingga merusak tarif di pasar.

“Jika bicara soal risiko semua tetap berdasarkan data statistik. Kalau seperti demikian, nanti dampaknya di hasil underwriting,” tutup Dody. []

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Asuransi

Jiwasraya Memanas! Ini Pernyataan Erick Thohir

MediaBUMN

Published

on

Jiwasraya

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Jiwasraya sampai dengan saat ini penyelesaiannya masih belum menemukan titik terang, bahkan saat ini isu berkembang menjadi bola panas yang liar.

Bahkan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pun tidak terlepas dari tuduhan terkait kasus gagal bayar oleh Jiwasraya. Erick dituduh turut merampok uang nasabah.

“Dibilang saya mengambil uang, saya bingung. Kan baru datang, kita baru mau bersih-bersih,” ujarnya di Tangerang (5/1).

Ia mengaku sangat kesal dengan adanya tudingan tersebut. Bahkan ia juga mendengar ada juga tudingan bahwa ada orang dalam istana terlibat kasus Jiwasraya.

“Bahkan nama Presiden Joko Widodo pun turut disebut-sebut. Ya mohon maaf sekarang banyak diplesetkan. Dibilanglah Pak Jokowi yang ambil, dibilanglah istana yang ambil. Ini kan jangan-jangan kebalik, yang neriak-neriak ini jangan-jangan yang ketakutan ini dibongkar,” tegas Erick.

Lebih lanjut Erick juga mendapat informasi bahwa akan ada demo pada pekan depan. Demo tersebut menyasar kantor Kementerian BUMN, KPK, dan depan Istana Negara.

“Mungkin karena banyak oknum-oknum yang gerah, yang selama ini menjarah Jiwasraya,” lanjutnya.

Pernyataan Erick Thohir Soal Isu Jiwasraya:

Kita membentuk holdingnisasi Jiwasraya. Di mana holdingisasi Jiwasraya ini akan ada cashflow Rp 1.5 triliun – Rp 2 triliun. Sehingga nasabah-nasabah yang selama ini tidak ada kepastian akan ada cashflow bergulir. Karena tidak boleh di setop.

Tetapi yang kita setop tadi, kembalinya oknum-oknum yang merampok Jiwasraya. Mohon maaf, sekarang banyak dipelesetkan, dibilanglah Pak Jokowi yang ambil, dibilanglah istana yang ambil.

Inikan jangan-jangan kita balik, yang teriak-teriak ini jangan-jangan yang ketakutan ini dibongkar.

Bahkan saya dengan minggu depan, Istana, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), dan Kantor BUMN akan di demo. Dibilang saya yang mengambil uang, saya bingung. Baru datang, kita mau bersih-bersih.

Nah ini yang saya tidak tahu. Mungkin banyak oknum-oknum yang gerah yang selama ini menjarah Jiwasraya. Nah sekarang, Pak Jaksa Agung sudah masuk untuk (ditindaklanjuti) ke proses hukum.

Tentunya untuk masalah hukum bukan wilayah saya dan Ibu Sri Mulyani (Menteri Keuangan). Saya dan Ibu Sri Mulyani memastikan nasabah itu mendapatkan kepastian dana yang wajib mereka terima.

Proses itu berlangsung 1-4 tahun. Kita juga cari skema-skema lainnya. Intinya Pemerintah Jokowi mencari solusi dan bertanggungjawab dan tidak melarikan diri.

Tapi kalau dituduh-tuduh dan dibilang kita ini rampok. Saya rasa teman-teman media tahulah siapa yang rampok. []

Continue Reading

Asuransi

Banyak Saham Gorengan di Jiwasraya, Ini Kata Kementerian BUMN & OJK

MediaBUMN

Published

on

saham gorengan

MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Asuransi Jiwasraya (Persero) saat ini sedang diterpa permasalahan serius. Salah satunya adalah banyaknya saham gorengan di Jiwasraya yang notabene perusahaan pelat merah.

Hal tersebut jugalah yang membuat Kementerian Badah Usaha Milik Negara (BUMN) angkat bicara.

Disampaikan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga di Jakarta, Kamis (21/11), ada tiga persoalan utama yang menjadikan Jiwasraya belum bisa menunaikan kewajibannya kepada para nasabah.

Diketahui Jiwasraya saat ini memang sedang menghadapi masalah setelah terpaksa menunda pembayaran kewajiban polis jatuh tempo.

Hal ini juga membuat persuhaan kesulitan pembayaran polis jatuh tempo terdapat di produk bancassurance.

Apalagi, Jiwasraya pernah menawarkan skema roll over kepada pemegang polis yang pembayaran klaimnya ditunda.

Bahkan untuk nilai Produk JS Saving Plan yang ditunggak mencapai Rp 805 miliar.

Disinyalir persoalan di Jiwasraya semakin keruh hal ini salah satunya dikarenakan perusahaan tersebut sedang mengalami masalah keuangan lantaran kerugian investasi di saham-saham ‘gorengan’ yang dilakukan oleh manajemen Jiwasraya terdahulu.

“Namun ada tiga titik persoalan yang mengarah sulitnya keuangan di Jiwasraya dan tengah diupayakan, pertama produknya memberikan gain lebih tinggi dari produk asuransi lainnya,” kata dia.

Akan tetapi menurutnya hal tersebut agak sulit untuk diteliti lebih jauh.

“Kan produk ada persetujuan dari nasabah, jadi mereka bisa berkelit kalau hal tersebut sudah disetujui, kalau nggak layak kan nggak disetujui,” tambahnya.

Selanjutnya yang kedua, disampaikan Arya, saat ini yang tengah dilakukan adalah meminta untuk segera diselidiki Kejaksaan Agung apakah ada persekongkolan (kongkalikong) sampai membuat investasi yang dibuat jadi kolaps seperti saat ini.

“Karena jika dilihat lihat dari saham perusahaan yang diinvestasikan Jiwasraya adalah betul saham gorengan,” terangnya.

“Saya ini juga kan main saham, jadi tau kalau itu gorengan, fundamentalnya digoreng di saat tertentu. Makanya itu, kita minta Kejaksaan teliti,” tambahnya.
Ketiga disampaikannya, pihak Kementerian BUMN tengah mencari laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), laporan tersebut akan menjadi acuan atau pegangan bagi Kejaksaan.

Sementara, di tempat lain, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah juga ikut menanggapi kondisi Jiwasraya saat ini.

“Hal ini memang telah disampaikan. Saat ini Jiwasraya dalam proses penyehatan. Sudah dilakukan sinergi antara pemegang saham dengan manajemen yang baru, apalagi kan pemegang sahamnya itu sudah jelas (pemerintah),” kata Nasrullah.

Nasrullah juga mengatakan, saat ini juga Jiwasraya tengah dalam proses masuknya investor.

Kurang lebih, kata dia, ada 2 sampai 3 calon investor asing yang akan masuk untuk membantu Jiwasraya kembali sehat melalui anak usahanya, yakni Jiwasraya Putra. []

Continue Reading

Asuransi

Dirut Jiwasraya: “Kondisi Keuangan Perusahaan Ibarat Penyakit”

MediaBUMN

Published

on

keuangan perusahaan

MEDIABUMN.COM. Jakarta – Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hexana Tri Sasongko yang baru masuk di pertengahan tahun 2018 mengatakan kondisi keuangan perusahaan Jiwasraya ibarat penyakit. Hal ini dimaknainya sebagai suatu masalah yang serius menimpa keuangan perusahaan yang tengah ia pimpin saat ini.

Tentunya ini beban berat baginya yang diminta untuk menyelesaikan persoalan di Jiwasraya. Menurutnya perusahaan asuransi milik BUMN tengah terbelit persoalan keuangan. Saat ini perusahaanya pun tak sanggup untuk melakukan kewajiban pembayaran klaim asuransi nasabah-nasabahnya yang telah jatuh tempo.

“Kami masuk sudah dalam keadaan bermasalah, kami pertama masuk tidak banyak tahu apa persoalannya,” aku Hexana di kantornya, Rabu (20/11).

Atas dasar itu, disampaikannya secara fundamental perusahaannya tersebut sakitnya sudah serius.

“Sakit serius! Sebuah perusahaan itu bukan membalik tangan mendadak,” keluhnya.

Bahkan Hexana mengungkapkan secara benderang telah terjadi manipulasi laporan keuangan perusahaan ketika dirinya masuk Jiwasraya.

Atas dasar itu pulalah yang menjadikan para pemegang saham merombak manajemen lama dengan memasukkan dirinya.

“Jadi selama ini orang-orang kan hanya mendiskreditkan pemegang saham, tapi ini memang ada di dalam, justru dari kecurigaan ini tidak adanya GCG (Good Corporate Governance) di perusahaan ini, sehinggga laporan pun dibuat secara tidak benar. Dimanipulasi laporannya,” terangnya.

Atas persoalan tersebutlah yang akhirnya membuat Hexana juga langsung mempelajari kondisi yang terjadi di perusahaan.

Setelah mempelajari kondisi perusahaan, ia melihat banyak hal yang tak beres dalam pengelolaan keuangan Jiwasraya.

Bahkan Hexana menyebutkan perusahaan di manajemen sebelumnya asal-asalan dalam melakukan investasi.

“Kelihatan dari balanshipnya, neracanya, perhitungan cadangannya, itu kurang. Padahal di dalam asuransi, cadangan dimaksudkan untuk merefleksikan pengakuan besarnya liabilities. Terus kemudian saya coba lihat juga di sisi aset, kok saya melihat aset-aset tidak baik. Ketika pasar turun, anehnya dia bisa jalan sendiri di atas,” katanya.

“Mulai tak lihat, wah ini aset-aset yang bukan, sulit mencari tahu kenapa mempunyai aset itu. Mempunyai investasi itu. Intinya dalam hal ini mereka tak menerapkan portofolio investment yang bagus. Jadi memburu apapun instrumen, nggak peduli apapun ratingnya, dicari yang potensi, hanya potensi loh, upsidenya tinggi. Tapi saya tanya, bagaimana melindungi dari downside? nggak ada. Jadi investasinya telanjang, naked. Sehingga ketika pasar jatuh ya ikut jatuh,” tambahnya.

Menurutnya juga Jiwasraya mengalami salah investasi hingga membuat keuangan perusahaan morat-marit.

Salah satu hal yang sampai membuat investasi Jiwasraya ini menjadi bermasalah adalah karena manajemen lama membeli saham-saham gorengan.

“Jadi memburu apapun instrumen, nggak peduli apapun ratingnya, dicari yang potensi, hanya potensi loh, upsidenya tinggi. Tapi saya tanya, bagaimana melindungi dari downside? nggak ada. Jadi investasinya telanjang, naked. Sehingga ketika pasar jatuh, ya ikut jatuh,” keluhnya.

Dijelaskannya, saham gorengan biasanya saham yang memiliki fluktuasi pergerakan nilai dengan cepat.

Saham gorengan perlu diwaspadai karena biasanya ada pihak-pihak yang sengaja menggerakkan harga saham.

Bahkan Hexana mengungkapkan bahwa, Jiwasraya saat ia masuk sudah banyak membeli saham-saham yang dinilai tidak layak.

“Saham-saham yang dibeli tersebut tidak perform, perusahaan-perusahaan yang dibeli perusahaan rugi, perusahaan-perusahaan yang capitalisasinya sangat kecil dan tidak terkenal,” tandasnya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM