Connect with us
PERTAMINA

Asuransi

Asuransi Asei Berhasil Tekan Loss Ratio

Published

on

Asuransi Asei

Asuransi Asei Indonesia di tahun 2019 ini tengah memasuki agenda penyehatan dan penguatan bisnis. Dimana sampai dengan periode Agustus 2019 agenda tersebut dinilai berhasil dan telah berjalan sesuai dengan track nya.

Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia, Eko Supriyanto Hadi menyebut indikator keberhasilan tersebut tercermin dari turunnya loss ratio (klaim) dari tahun sebelumnya. Menurutnya apabila ada business accept yang dilakukan pada underwriting year 2019 ini klaimnya pun hanya berada pada level di bawah 1 persen.

“Dibandingkan tahun 2018 lalu klaimnya jauh lebih tinggi bahkan mencapai 30 persen. Tahun ini kami masih banyak melakukan penyelesaian klaim-klaim yang belum rampung pada tahun lalu sehingga sangat wajar apabila berdampak terhadap kinerja perusahaan pada tahun ini,” paparnya.

Turunnya loss ratio, imbuh Eko, menjadi salah satu indikator keberhasilan perusahaan dalam menjalankan agenda penyehatan bisnis di tahun 2019. Sehingga tahun depan, Asuransi Asei dinilai siap untuk memperkuat dan memantapkan bisnis sebagai modal utama untuk take off di tahun 2021.

“Sehat tidaknya sebuah perusahaan asuransi itu salah satunya bisa dilihat dari loss ratio nya. Bagaimana bisa dikatakan sehat kalau klaimnya besar dan tidak seimbang dengan preminya. Tapi bukan berarti kami menolak klaim, namun bisnis asuransi merupakan bisnis jasa meng-cover risiko yang sehat dari segi asuransi,” ujar pria kelahiran tahun 1966 tersebut.

Asuransi Asei Hadapi Warisan Masa Lalu

Walaupun dari sisi kinerja perusahaan, Eko mengaku jika Asuransi Asei masih terbawa oleh performa pada tahun lalu. Hal ini terjadi karena pada tahun ini manajemen masih harus menyelesaikan loss ratio yang tinggi sebagai warisan tahun sebelumnya yang belum diselesaikan.

“loss ratio yang tinggi ini bahkan efeknya masih akan terasa hingga 2-3 tahun ke depan! Oleh karenanya tahun 2019 ini harus ditekan seminimal mungkin, sehingga di tahun-tahun berikutnya kami dapat melangkah lebih ringan,” terangnya.

Lain halnya apabila Asuransi Asei benar-benar pure (tidak ada warisan klaim) sejak awal tahun 2019 ini, maka perusahaan diyakini sudah mengantongi laba double digit. Sampai dengan periode Agustus 2019, Asuransi Asei telah mengantongi premi lebih dari Rp200 miliar. Meskipun penuh dengan tantangan, Eko optimis perusahaan akan mampu mengejar target premi hingga Rp400 miliar di akhir tahun 2019.

“Kami tidak akan merevisi target tersebut, namun kami harus tetap realistis mengingat Asuransi Asei masih tersandera oleh banyak legacy tahun sebelumnya yang harus diselesaikan,” tutup Eko. []

Asuransi

Banyak Saham Gorengan di Jiwasraya, Ini Kata Kementerian BUMN & OJK

Published

on

saham gorengan

MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Asuransi Jiwasraya (Persero) saat ini sedang diterpa permasalahan serius. Salah satunya adalah banyaknya saham gorengan di Jiwasraya yang notabene perusahaan pelat merah.

Hal tersebut jugalah yang membuat Kementerian Badah Usaha Milik Negara (BUMN) angkat bicara.

Disampaikan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga di Jakarta, Kamis (21/11), ada tiga persoalan utama yang menjadikan Jiwasraya belum bisa menunaikan kewajibannya kepada para nasabah.

Diketahui Jiwasraya saat ini memang sedang menghadapi masalah setelah terpaksa menunda pembayaran kewajiban polis jatuh tempo.

Hal ini juga membuat persuhaan kesulitan pembayaran polis jatuh tempo terdapat di produk bancassurance.

Apalagi, Jiwasraya pernah menawarkan skema roll over kepada pemegang polis yang pembayaran klaimnya ditunda.

Bahkan untuk nilai Produk JS Saving Plan yang ditunggak mencapai Rp 805 miliar.

Disinyalir persoalan di Jiwasraya semakin keruh hal ini salah satunya dikarenakan perusahaan tersebut sedang mengalami masalah keuangan lantaran kerugian investasi di saham-saham ‘gorengan’ yang dilakukan oleh manajemen Jiwasraya terdahulu.

“Namun ada tiga titik persoalan yang mengarah sulitnya keuangan di Jiwasraya dan tengah diupayakan, pertama produknya memberikan gain lebih tinggi dari produk asuransi lainnya,” kata dia.

Akan tetapi menurutnya hal tersebut agak sulit untuk diteliti lebih jauh.

“Kan produk ada persetujuan dari nasabah, jadi mereka bisa berkelit kalau hal tersebut sudah disetujui, kalau nggak layak kan nggak disetujui,” tambahnya.

Selanjutnya yang kedua, disampaikan Arya, saat ini yang tengah dilakukan adalah meminta untuk segera diselidiki Kejaksaan Agung apakah ada persekongkolan (kongkalikong) sampai membuat investasi yang dibuat jadi kolaps seperti saat ini.

“Karena jika dilihat lihat dari saham perusahaan yang diinvestasikan Jiwasraya adalah betul saham gorengan,” terangnya.

“Saya ini juga kan main saham, jadi tau kalau itu gorengan, fundamentalnya digoreng di saat tertentu. Makanya itu, kita minta Kejaksaan teliti,” tambahnya.
Ketiga disampaikannya, pihak Kementerian BUMN tengah mencari laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), laporan tersebut akan menjadi acuan atau pegangan bagi Kejaksaan.

Sementara, di tempat lain, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah juga ikut menanggapi kondisi Jiwasraya saat ini.

“Hal ini memang telah disampaikan. Saat ini Jiwasraya dalam proses penyehatan. Sudah dilakukan sinergi antara pemegang saham dengan manajemen yang baru, apalagi kan pemegang sahamnya itu sudah jelas (pemerintah),” kata Nasrullah.

Nasrullah juga mengatakan, saat ini juga Jiwasraya tengah dalam proses masuknya investor.

Kurang lebih, kata dia, ada 2 sampai 3 calon investor asing yang akan masuk untuk membantu Jiwasraya kembali sehat melalui anak usahanya, yakni Jiwasraya Putra. []

Continue Reading

Asuransi

Dirut Jiwasraya: “Kondisi Keuangan Perusahaan Ibarat Penyakit”

Published

on

keuangan perusahaan

MEDIABUMN.COM. Jakarta – Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hexana Tri Sasongko yang baru masuk di pertengahan tahun 2018 mengatakan kondisi keuangan perusahaan Jiwasraya ibarat penyakit. Hal ini dimaknainya sebagai suatu masalah yang serius menimpa keuangan perusahaan yang tengah ia pimpin saat ini.

Tentunya ini beban berat baginya yang diminta untuk menyelesaikan persoalan di Jiwasraya. Menurutnya perusahaan asuransi milik BUMN tengah terbelit persoalan keuangan. Saat ini perusahaanya pun tak sanggup untuk melakukan kewajiban pembayaran klaim asuransi nasabah-nasabahnya yang telah jatuh tempo.

“Kami masuk sudah dalam keadaan bermasalah, kami pertama masuk tidak banyak tahu apa persoalannya,” aku Hexana di kantornya, Rabu (20/11).

Atas dasar itu, disampaikannya secara fundamental perusahaannya tersebut sakitnya sudah serius.

“Sakit serius! Sebuah perusahaan itu bukan membalik tangan mendadak,” keluhnya.

Bahkan Hexana mengungkapkan secara benderang telah terjadi manipulasi laporan keuangan perusahaan ketika dirinya masuk Jiwasraya.

Atas dasar itu pulalah yang menjadikan para pemegang saham merombak manajemen lama dengan memasukkan dirinya.

“Jadi selama ini orang-orang kan hanya mendiskreditkan pemegang saham, tapi ini memang ada di dalam, justru dari kecurigaan ini tidak adanya GCG (Good Corporate Governance) di perusahaan ini, sehinggga laporan pun dibuat secara tidak benar. Dimanipulasi laporannya,” terangnya.

Atas persoalan tersebutlah yang akhirnya membuat Hexana juga langsung mempelajari kondisi yang terjadi di perusahaan.

Setelah mempelajari kondisi perusahaan, ia melihat banyak hal yang tak beres dalam pengelolaan keuangan Jiwasraya.

Bahkan Hexana menyebutkan perusahaan di manajemen sebelumnya asal-asalan dalam melakukan investasi.

“Kelihatan dari balanshipnya, neracanya, perhitungan cadangannya, itu kurang. Padahal di dalam asuransi, cadangan dimaksudkan untuk merefleksikan pengakuan besarnya liabilities. Terus kemudian saya coba lihat juga di sisi aset, kok saya melihat aset-aset tidak baik. Ketika pasar turun, anehnya dia bisa jalan sendiri di atas,” katanya.

“Mulai tak lihat, wah ini aset-aset yang bukan, sulit mencari tahu kenapa mempunyai aset itu. Mempunyai investasi itu. Intinya dalam hal ini mereka tak menerapkan portofolio investment yang bagus. Jadi memburu apapun instrumen, nggak peduli apapun ratingnya, dicari yang potensi, hanya potensi loh, upsidenya tinggi. Tapi saya tanya, bagaimana melindungi dari downside? nggak ada. Jadi investasinya telanjang, naked. Sehingga ketika pasar jatuh ya ikut jatuh,” tambahnya.

Menurutnya juga Jiwasraya mengalami salah investasi hingga membuat keuangan perusahaan morat-marit.

Salah satu hal yang sampai membuat investasi Jiwasraya ini menjadi bermasalah adalah karena manajemen lama membeli saham-saham gorengan.

“Jadi memburu apapun instrumen, nggak peduli apapun ratingnya, dicari yang potensi, hanya potensi loh, upsidenya tinggi. Tapi saya tanya, bagaimana melindungi dari downside? nggak ada. Jadi investasinya telanjang, naked. Sehingga ketika pasar jatuh, ya ikut jatuh,” keluhnya.

Dijelaskannya, saham gorengan biasanya saham yang memiliki fluktuasi pergerakan nilai dengan cepat.

Saham gorengan perlu diwaspadai karena biasanya ada pihak-pihak yang sengaja menggerakkan harga saham.

Bahkan Hexana mengungkapkan bahwa, Jiwasraya saat ia masuk sudah banyak membeli saham-saham yang dinilai tidak layak.

“Saham-saham yang dibeli tersebut tidak perform, perusahaan-perusahaan yang dibeli perusahaan rugi, perusahaan-perusahaan yang capitalisasinya sangat kecil dan tidak terkenal,” tandasnya. []

Continue Reading

Asuransi

Dua Perusahaan BUMN Jadi Perhatian Bank Dunia

Published

on

Bank Dunia

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Dua perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini tengah menjadi perhatian Bank Dunia. Hal ini lantaran, kedua perusahaan pelat merah yang bergerak dibidang asuransi di Indonesia, Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera dan Jiwasraya ini gagal membayar polis ke nasabahnya.

Hal tersebut terlihat di dalam laporan “Global economic risks and implications for Indonesia” yang dirilis September 2019.

Dalam rillisnya tersebut, Bank Dunia menilai bahwa jika dilihat secara umum, keuangan Indonesia tahan terhadap guncangan perekonomian.

Kendati demikian, Indonesia saat ini harus mampu menjaga kredibilitas sistem keuangan dengan mengatasi kelemahan di sektor asuransi seperti yang terjadi pada dua perusahaanya, Bumiputera dan Jiwasraya.

Tak sampai disitu saja, di dalam laporannya tersebut juga tertuliskan bahwa sampai dengan saat ini dua perusahaan asuransi jiwa nasional terbesar di Indonesia, Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 dan Jiwasraya belum bisa memenuhi kewajibannya.

Bahkan, kedua perusahaan asuransi tersebut mungkin tidak likuid dan membutuhkan perhatian segera untuk dituntaskan.

Karena hingga per hari ini, diperkirakan ada 7 juta jiwa dengan lebih dari 18 juta polis yang sebagian besar merupakan masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah terlibat dalam kasus tersebut.

Maka dalam hal ini, Bank Dunia menilai dalam memperbaiki kondisi tersebut, diperlukan analisis yang terinci terhadap penilaian risiko dalam asuransi.

Kemudian, jika melihat berdasarkan penilaian, perbaikan maupun resolusi juga harus dilakukan sesuai dengan urutan aturan yang berlaku.

Sebagai informasi, saat ini AJB Bumiputera tidak mampu membayar polis lantaran mencatatkan kinerja keuangan negatif hingga mencapai Rp20 triliun sejak tahun 2018.

Upaya dengan pergantian direksi pun telah seringkali dilakukan, namun tidak juga menemukan titik terang.

Sementara untuk Jiwasraya juga mengalami hal serupa lantaran kesalahan pada penempatan portofolio.

Namun sejauh ini, korporasi telah memiliki beberapa rencana dalam membayar tunggakan polis yang jumlahnya mencapai Rp 802 miliar.

Contohnya saja seperti penerbitan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN).

Selain itu perusahaan BUMN ini juga berencana membentuk anak usaha Jiwasraya Putera. Namun upaya tersebut masih menunggu izin dari otoritas yang berwenang. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM