Connect with us
PERTAMINA

Energi & Tambang

ANTAM Catatkan EBITDA Positif Sebesar Rp2.21 Triliun

MediaBUMN

Published

on

PT ANTAM Tbk berhasil mencatat pertumbuhan kinerja keuangan, operasi serta penjualan sepanjang tahun buku 2017, dengan catatan Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) yang tumbuh 96% menjadi Rp2.21 Triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tercatat Rp1.13 Triliun.

Menurut Direktur Utama PT ANTAM Tbk, Arie Prabowo Ariotedjo, pertumbuhan tersebut didorong oleh kinerja produksi serta penjualan komoditas utama, selain langkah efisiensi yang berdampak baik terhadap stabilnya level biaya tunai operasi perusahaan.

Arie juga mamaparkan bahwa sepanjang tahun 2017 penjualan bersih perusahaan tercatat sebesar Rp12.65 Triliun atau mengalami kenaikan sebesar 39% jika dibandingkan catatan tahun sebelumnya. ANTAM pun berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp136 Miliar naik signifikan 111% jika dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang dibukukan sebesar Rp64 Miliar.

ANTAM dengan komoditi emasnya sebagai komponen terbesar perusahaan berhasil meraih nilai penjualan Rp12.65 Triliun atau berkontribusi 58% terhadap total penjualan bersih atau mencapai Rp7,37 Triliun.

Baca Juga : ANTAM Catat Pertumbuhan Kinerja Operasi

Selain itu, sepanjang tahun kinerja 2017, ANTAM kembali mencatatkan volume produksi dan penjualan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Dengan capaian produksi forenikel 21.762 TNi (Ton Nikel) dalam forenikel atau naik 7% dari raihan tahun sebelumnya.

“Penjualan forenikel meningkat sebesar 4% atau mencapai 21.813 TNi, sekaligus menjadi kontributor terbesar dari toal penjualan bersih perusahaan dengan raihan kontribusi sebesar Rp3.22 Triliun atau 25% dari total penjualan bersih sepanjang tahun 2017,” ujar Arie.

Untuk komoditas emas, ANTAM mencatatkan total volume produksi emas dari tambang Pongkor dan Cibaliung sebesar 1.967 kg (63.240 oz), dengan volume penjualannya tercatat sebanyak 13.202 kg atau mengalami pertumbuhan 29% dibandingkan volume tahun sebelumnya yang tercatat hanya sebesar 10.227kg. Hal tersebut seiring upaya perusahaan dalam melakukan pengembangan ke di pasar domestik serta ekspor dan inovasi pada produk logam mulia.

“Sepanjang 2017 kami juga berhasil meraih penjualan emas sebesar Rp7.37 Triliun atau tumbuh 33% dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp5.45 Triliun,” tutup Arie. []

Energi & Tambang

Pembangunan Smelter Antam Mangkrak 8 Tahun

Alfian Setya Saputra

Published

on

Pembangunan Smelter Antam

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Pembangunan Smelter Antam yang dimulai sejak tahun 2012 lalu hingga kini tidak kunjung rampung.

Padahal untuk pengerjaan proyek tersebut, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. sudah mendapatkan Penanaman Modal Negara (PMN) sebesar Rp3,5 triliun di tahun 2015.

Hal ini pun menjadi sorotan Menteri BUMN, Erick Thohir dalam rapat bersama Komisi VI DPR di Jakarta, Selasa (22/9/2020).

Erick mengatakan, pembangunan pabrik smelter Nickel Pig Iron (NPI) Blast Furnance ada di Halmahera, Maluku Utara.

Salah satu kendala mangkraknya pembangunan smelter Antam ini, lantaran pembangkit listrik yang dikerjakan kontraktor anak usaha PT PLN (Persero) untuk smelter ini juga belum rampung.

“PMN yang sudah diberikan kepada PT Antam ternyata tidak maksimal. Seharusnya investasi pemerintah lewat PMN ini tidak bisa project based, tapi proses bisnis yang harus dijalankan bersama-sama. Sangat aneh kalau kita membangun smelter, tapi listriknya belum siap,” kata Erick.

Erick menambahkan, PT Antam tidak maksimal menjalankan sinergi BUMN yang sudah digaungkan selama ini.

Hal itu menjadi salah alasan Kementerian BUMN merobak jajaran direksi PT Antam pada akhir tahun 2019.

Saat itu, Erick mencopot Arie Prabowo Ariotedjo yang sudah menjabat sebagai Direktur Utama sejak tahun 2017 dan digantikan oleh Dana Amin.

Meski begitu, PT Antam melaporkan bahwa pembangunan Smelter Antam berkapasitas 13.500 ton nikel per tahun ini sudah memasuki tahap kontruski.

Bahkan menurut pihak perseroan, pengerjaan smelter ini sudah hampir rampung dengan capaian konstruksi 98 persen pada Semester I tahun 2020.

Di sisi lain, Erick Thohir juga meminta PT Antam untuk mengelola bekas wilayah tambang emas PT Freeport Indonesia.

Sebelumnya, Erick telah menyurati Menteri ESDM, Arifin Tasrif agar PT Antam mendapatkan izin pengelolaan bekas tambang emas Freeport tersebut.

Terkait hal itu, SVP Corporate Secretary PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. Kunto Hendrapawoko menytakan pihaknya menyambut baik kesempatan tersebut.

Menurutnya, pengelolaan bekas tambang ini bisa menjadi peluang dan prospek yang baik bagi PT Antam sebagai bagian dari Holding Industri Pertambangan MIND ID.

“Ini akan memperkuat komoditas emas perusahaan, rencana ini juga akan membuka kesempatan sinergi pengelolaan aset pertambangan nasional untuk mendukung pengembangan hilirisasi bisnis mineral yang terintegrasi,” kata Kunto. []

Continue Reading

Energi & Tambang

DPPU Pertamina Resmi Berdiri di Bandara Ferdinand Lumban Tobing

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

DPPU Pertamina

MEDIABUMN.COM, Jakarta – DPPU Pertamina (Depot Pengisian Pesawat Udara) resmi berdiri di Bandara Dr Ferdinand Lumban Tobing, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Pembangunan sarana DPPU ini dilakukan oleh PT Pertamina (persero) beserta afiliasinya PT Elnusa Petrofin (EPN) untuk memenuhi kebutuhan pasokan bahan bakar Avtur bagi maskapai di wilayah operasional bandara tersebut.

Meningkatkan jalur transportasi udara dan maskapai dari bandara ini menjadi salah satu faktor dibangunannya fasilitas ini.

Sebelumnya penerbangan Dari bandara Dr Ferdinand Lumban Tobing sempat vakum saat awal wabah wabah Covid-19 merebak

Beberapa fasilitas yang diresmikan pada 27 Agustus lalu yaitu Kantor Operasional DPPU Pertamina yang telah direlokasi di lahan seluas 600 meter persegi.

Kemudian penyimpanan Avtur (tank storage) yang kapasitasnya ditambah sebesar 25 KL dari DPPU Pertamina Bandara Polonia Medan.

Dengan penambahan itu, total kapasitas penyimpanan di DPPU Pertamina Pinangsori totalnya sebesar 60 KL, naik hampir dua kali lipat dari sebelumnya.

Penyimpanan ini pun meningkatkan ketahanan stok Avtur di bandara dari sebelumnya 4 hari menjadi 10 hari dalam kondisi normal.

Diketahui, DPPU Pertamina di Bandara Ferdinand Lumban Tobing telah dikelola oleh PT Elnusa Petrofin sejak tahun 2017 lalu.

Sebelumnya sistem penyimpanan Avtur di sarana DPPU ini masih menggunakan floating tank, maka pihak Pertamina terus melakukan pembenahan untuk memenuhi kebutuhan maskapai.

Direktur Utama PT Elnusa Petrofin, Haris Syahrudin mengatakan fasilitas dan sarana DPPU yang baru ini adalah kontribusi nyata EPN untuk mendukung Pertamina dalam menjaga ketersediaan energi.

Terutama untuk bahan bakar Avtur yang digunakan maskapai sebagai pelanggan Pertamina serta masyarakat pada umumnya.

“Kami berharap dengan ketersediaan Avtur yang terjaga, akan mendorong dan meningkatkan kembali sektor ekonomi di Tapanuli Tengah,” ujarnya.

DPPU Pertamina Berdampak Positif

Gema Iriandus Pahalawan selaku GM Marketing Region I Pertamina, menyebutkan, Pertamina mendapat penugasan dari pemerintah untuk melayani kebutuhan energi.

Ia pun berharap dengan peresmian DPPU Pertamina ini, akan memberi dampak positif bagi dan mendorong pemulihan ekonomi di daerah tersebut, terutama untuk sektor industri, pariwisata dan bisnis.

“Selain itu keberadaan sarana dan fasilitas baru DPPU Pertamina di Pinangsori mampu meningkatkan efisiensi pengisian Avtur bagi Maskapai,” tutupnya.

Untuk diketahui, PT Elnusa Petrofin (EPN) adalah anak perusahaan dari PT. Elnusa Tbk yang didirikan di Jakarta pada tanggal 5 Juli 1996.

Adapun PT. Elnusa Tbk adalah Anak Perusahaan Pertamina yang bergerak di sektor jasa logistik dan distribusi BBM.

EPN saat ini menjadi salah satu ujung tombak Pertamina untuk menyalurkan BBM PSO dan BBM Satu Harga ke berbagai daerah di Indonesia. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Pelabuhan Tanjung Intan Tersambung Listrik 1.385 kVA

EKO PRASETYO

Published

on

Pelabuhan Tanjung Intan

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Pelabuhan Tanjung Intan di Cilacap, Jawa Tengah telah dilakukan penyalaan pasang baru shore connection dengan daya sebesar 1.385 kVA oleh PT PLN (Persero).

Shore connection yaitu pemasangan jaringan listrik di dermaga untuk digunakan oleh kapal yang bersandar di pelabuhan tersebut.

Pemasangan jaringan listrik ini sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) dan sinergi antara Pelindo III selaku pengelola Pelabuhan Tanjung Intan dengan PT PLN.

Sambungan listrik dari PLN nantinya akan menghemat biaya BBM untuk operasional pelabuhan hingga 50 persen.

General Manager (GM) Pelindo III Sutopo mengatakan, dengan penggunaan energi listrik, Pelindo III bisa melakukan efisiensi biaya Bahkan Bakar Minyak.

“Dengan penyediaan tenaga listrik di lingkungan terminal pelabuhan, kami berharap biaya yang dikeluarkan bisa lebih efisien. Kami juga berharap krjasama ini tidak hanya di Pelabuhan Tanjung Intan saja, tapi semua pelabuhan di Pelindo akan menjalin kerjasama dengan PLN,” ujar Sutopo melalui keterangan tertulis, Sabtu (19/8/2020).

Adapun pemasangan jaringan listrik daya 1.385 kVA ini adalah pemasangan tahap pertama dari target daya yang telah disepakati sebesar 5.500 kVA.

Diketahui Pelabuhan Tanjung Intan juga sedang dikembangkan sebagai pelabuhan dengan infrastuktur pendukung ekspor impor di wilayah Jawa Tengah.

Dengan infrastruktur pelabuhan yang memadai, akan membuat daerah lain juga tertarik untuk mengekspor barangnya dari Cilacap, terlebih akses transortasi juga didukung keberadaan kereta api dan juga bandar udara.

Sementara General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Feby Joko Priharto mengatakan penyambungan jaringan baru ini sejalan dengan transformasi PLN yaitu ‘Green Energy’.

Dimana perusahaan setrum negara ini terus mendorong penyediaan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

“Dengan adanya pelayanan listrik dari PLN, saat ini kapal yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Intan tidak perlu lagi menggunakan BBM untuk membangkitkan listriknya, tapi bisa langsung dari jaringan yang kita pasang,” ujarnya.

Namun pihak PLN juga harus menghadapi tantangan yang berat selama proses penyambungan jaringan listrik tersebut.

“Tim dari PLN harus bisa menyelesaikan pengerjaan proyek jaringan ini hanya dalam waktu 3 hari. Tim PLN juga harus memasang sambungan kabel bawah tanah sepanjang 350 meter yang penuh dengan beton,” pungkasnya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM