Connect with us
PERTAMINA

Transportasi

Angkutan Logistik ASDP Naik Hingga 5 Persen

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Angkutan logistik

MEDIABUMN.COM, Jakarta –Angkutan logistik PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) terus mengalami kenaikan pasca dihentikan sementara operasional penyeberangan penumpang dan kendaraan non barang. Kenaikan jumlah angkutan logistik ini bervariasi dari 2 hingga 5 persen.

Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Imelda Alini mengatakan, pihaknya memang saat ini fokus melayani angkutan logistik di seluruh wilayah Indonesia sesuai aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah masing-masing.

Adapun dari tujuh cabang utama yang telah dilayani selama periode Maret – April 2020 adalah Bakauheni, Merak, Batam, Lembar, Ketapang, Bitung dan Kayangan sebanyak 688.836 unit kendaraan logistik.

“Jumlah kendaraan itu mulai dari golongan V hingga IX. Fokus ASDP saat ini memang untuk menjaga agar penyeberangan logistik tetap berjalan lancar sehingga pasokan logistik ke seluruh Indonesia juga tetap terjaga,” ujar Imelda Alini Kamis (7/5/2020).

Penyaluran khusus logistik ini, kata Imelda, telah diatur dalam Permenhub 25 Tahun 2020 untuk Pencegahan Penyebaran Covid-19. Untuk itu, ASDP berkomitmen untuk tetap menjaga pasokan kebutuhan pokok di daerah sesuai arahan Presiden terutama di masa pandemi saat ini.

“Selama pandemi covid-19 ASDP hanya melayani angkutan logistik. Lalu lintas truk logistik pada sejumlah lintasan utama mengalami kenaikan. Seperti di Merak dan Bakauheni yang merupakan lintasan utama Pulau Jawa dan Sumatera rata-rata naik 2-3 persen,” ujarnya.

Adapun, masing-masing Cabang utama itu selama 2 bulan terakhir mengangkut 183.642 unit truk untuk Merak, dan Bakauheni sebanyak 178.920 unit. Jika dibandingkan dengan periode sama tahun 2019, penyeberangan truk di daerah itu yakni 181.629 unit di Merak dan 175.677 unit di Bakauheni. Imelda memprediksi mobilitas logistik terus meningkat jelang hari raya Idul Fitri.

“Cabang utama yang lain juga mengalami peningkatan. Yaitu Cabang Bitung dan Batam yang meningkat 5 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Selama periode Maret-April, jumlah truk barang tercatat sebanyak 10.966 unit apabila dibandingkan periode sama tahun lalu yaitu hanya sebanyak 10.438 unit. Untuk Bitung, Sulawesi Utara tercatat kendaraan logistik yang dilayani mencapai 2.760 atau naik 4,5 persen, dibandingkan tahun lalu sebanyak 2.641.

Di kawasan Timur, layanan logistik ASDP juga terus menjadi andalan, antara lain di Papua. Di ASDP cabang Merauke sendiri telah mengoperasikan sejumlah 4 unit kapal.

Ke empat kapal tersebut adalah KMP Muyu dan KMP Bambit dengan homebase di Merauke KMP Binar di Agats dan KMP Kokonao di Pomako. Kapal-kapal ini menjadi andalan warga kota Merauke dan Timika untuk distribusi bahan pokok hingga ke daerah pedalaman Asmat.

“Dengan jarak tempuh yang mencapai 1 hingga 2 hari melintasi laut bebas dan sungai, layanan kapal ASDP sangat dinantikan masyarakat,” jelasnya. []

Transportasi

Kapal Ternak Pelni Muatannya Meningkat Jelang Idul Adha

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Kapal ternak Pelni

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Kapal ternak Pelni (PT Pelayaran Nasional Indonesia) mengalami peningkatan muatan hewan jelang hari raya Idul Adha 1441 H/2020.

Seperti yang terjadi pada kapal KM Camara Nusantara 1, hingga pertengahan Juli 2020, muatan hewan ternak sapi pada kapal Pelni ini telah mencapai 2.968 ekor.

Pelni mencatat distribusi dan kebutuhan hewan ternak menggunakan kapal ternak Pelni masih akan terus meningkat menjelang hari raya Idul Adha.

Kepala Kesekretariatan Perusahaan PT Pelni (Persero), Yahya Kuncoro mengatakan, pada pekan kedua bulan ini, KM Camara Nusantara 1 telah membawa 548 ekor sapi menuju Jakarta.

Dari jumlah tersebut, 398 ekor sapi dibawa dari Kupang dan 150 ekor dari Waingapu.

Pada periode Agustus sampai dengan akhir tahun 2020, Pelni menargetkan KM Camara Nusantara 1 mampu mengangkut hingga 3.850 ekor sapi.

Target itu mengalami kenaikan 24 persen dari periode yang sama tahun 2019 sebanyak 2.891 ekor.

“Walaupun pandemi Covid-19 masih melanda Indonesia dalam bulan terakhir, kebutuhan hewan ternak kami prediksi masih akan meningkat. Untuk itu kami terus berusaha untuk memaksimalkan kapal ternak Pelni guna memenuhi kebutuhan hewan ternak sapi di Indonesia,” kata Yahya melalui keterangan resmi, Jakarta, Senin (13/7/2020).

Kapasitas Kapal Ternak Pelni

Dijelaskannya, Kapal Ternak Pelni KM Camara Nusantara 1, memiliki kapasitas muatan hingga 550 hewan sapi dalam satu kali perjalanan, melintasi jalur Kupang – Waingapu – Tanjung Priok – Cirebon dan kembali ke Kupang.

Jadwal pelayaran kapal ini juga dibuat secara teratur dan tepat waktu guna memberikan kepastian bagi para pengguna jasa untuk menyiapkan pengiriman hewan ternaknya.

Selama ini, pihak yang menjadi pengguna jasa kapal ternak Pelni adalah koperasi daerah, BUMN, BUMD, maupun badan hukum yang sudah memiliki izin dari Dinas Peternakan Pemda setempat dan Kementerian Pertanian hingga Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dengan kehadiran kapal ternak Pelni selama ini turut berkontrbusi dalam menjaga kualitas hewan hingga tiba di pelabuhan tujuan.

Karena kapal ternak Pelni didesign sesuai prinsip animal welfare yang dapat membantu meminimalkan penyusutan bobot ternak 8 – 10 persen serta mengurangi tingkat stress hewan selama perjalanan.

“Nah, ini berbeda kalau hewan ternak diangkut menggunakan kapal kargo. Karena cara muat dan bongkarnya bisa membuat hewan stress dan mempengaruhi bobot hewan hingga lebih dari 13 persen,” jelas Yahya. []

Continue Reading

Transportasi

Dana Talangan Untuk PT KAI Butuh Rp3,5 Triliun

Alfian Setya Saputra

Published

on

Dana talangan

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Dana talangan menjadi pilihan terakhir bagi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI agar tetap bisa melanjutkan operasional dan mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan.

Untuk itu, PT KAI akan mengajukan dana talangan senilai Rp3,5 triliun kepada pemerintah, 36 persen dari dana itu atau senilai Rp1,25 triliun diperuntukkan bagi biaya pegawai.

Saat ini, PT KAI memiliki 46.000 pegawai yang terdiri dari 30.000 pegawai induk usaha dan 16.000 pegawai anak usaha.

Direktur Utama PT KAI Didiek Hartanto mengatakan pihaknya mengambil kebijakan untuk tidak merampingkan karyawan hingga tidak adanya pemangkasan pendapatan.

“Kami tidak akan melakukan pemotongan gaji dan melakukan PHK karyawan, sehingga kami memerlukan likuiditas Rp1,25 triliun untuk membiayai ini,” jelasnya, Rabu (8/7/2020).

Menurut Didiek, selain biaya pegawai, porsi terbesar dana talangan ini akan dimanfaatkan untuk perawatan sarana dan prasarana perkeretaapian Rp680 miliar, bangunan di sepanjang lintasan kereta Rp740 miliar.

Sisanya untuk pembiayaan komponen biaya bahan bakar senilai Rp550 miliar dan dana pendukung operasional senilai Rp280 miliar.

Didiek menambahkan, selama pandemi corona, PT KAI telah melakukan beberapa langkah efesiensi untuk bisa survive.

Namun hal tersebut masih belum cukup untuk mendukung berbagai kegiatan operasional perseroan.

“Pengajuannya yang terbesar untuk biaya pegawai 36 persen, sedangkan 21 persen untuk perawatan prasarana termasuk bangunan, dan 19 persen untuk sarana perkeretaapian,” jelasnya.

Untuk merealisasikan dana talangan ini, perusahaan pelat merah ini akan menyampaikan surat permohonan kepada Kementerian BUMN.
Selanjutnya akan dilakukan pembahasan bersama dengan Kementerian BUMN dan Kementerian keuangan, disusul pembahasan skema dengan lembaga keuangan dan non keuangan dan Kemenkeu.

Menurut Didiek, secara struktur kemenkeu akan menunjuk Sarana Multi Infrastruktur (SMI) atau Penjaminan Indonesia sehingga terkumpul dana talangan senilai Rp3,5 triliun.

“Kami sudah melakukan RDP dengan DPR, dengan begitu paling lambat hingga Agustus 2020 telah menandatangani perjanjian pendanaan sekaligus pencairan pendanaan pada bulan yang sama,” jelasnya.

Anjok Dihantam Corona

Pandemi Covid-19 berdampak langsung terhadap pendapatan perseroan yang anjlok.

Rinciannya, di bulan Januari 2020, pendapatan PT KAI cukup bagus yakni Rp2,3 triliun, namun pada Februari, pendapatan mulai turun menjadi Rp1,2 triliun saja.

Lalu di bulan Maret, pendapatan semakin anjlok hanya Rp890 miliar, dan turun lagi di bulan April yang hanya sebesar Rp684 miliar.

“Sementara perseroan harus tetap mengeluarkan biaya operasinal yang mana jumlahnya cukup tinggi. Seperti di bulan Maret Rp1,4 triliun, dan April Rp1,2 triliun, jadi dampak covid-19 ini langsung terasa dalam cash flow kami,” tutupnya. []

Continue Reading

Transportasi

Penumpang KRL Selalu Padat, KAI Minta Jam Kerja Diatur

EKO PRASETYO

Published

on

Penumpang KRL

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Penumpang KRL (Kereta Rel Listrik) yang selalu padat di jam-jam sibuk masih menjadi masalah. Masyarakat di DKI Jakarta masih berangkat kerja berbarengan dan menimbulkan kepadatan di stasiun sejak pukul 06.00 sampai 08.00 pagi hari.

Untuk mengatasi hal ini, pihak PT KAI meminta agar seluruh instansi, baik Pemerintah Pusat, Pemda, swasta, BUMN dan BUMD untuk mengatur ulang jam kerja pegawainya.

Dengan begitu kepadatan penumpang KRL dapat terurai dan mengurangi antrean pengguna KRL yang masuk stasiun.

Hal ini disampaikan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Didiek Hartantyo di Jakarta, Senin (6/7/2020).

“Kami berharap semua pihak baik instansi maupun perusahaan yang pegawainya berangkat kerja menggunakan KRL bisa mengatur kembali jam masuk kerja pegawai sesuai Surat Edaran Gugus Tugas Covid-19 No 8 tahun 2020. Pihak terkait juga bisa melakukan pengaturan jam kerja shift pagi dan siang,” ujar Didiek.

Menurut Didiek, dengan adanya pengaturan ulang jam kerja, maka pelayanan kepada penumpang KRL di stasiun dan kereta akan lebih baik.

Para penumpang juga nantinya tidak akan berlama-lama untuk mengantre di stasiun untuk masuk ke KRL karena situasinya tidak akan sepadat saat ini.

Saat ini, PT KAI sudah memaksimal operasional KRL, dengan mengoperasikan 95 persen dari total perjalanan KRL, yaitu 947 perjalanan dari 991 perjalanan regular.

Didiek mencontohkan, di stasiun Bogor, headway antar kereta hanya berjarak 5 menit sekali.
Namun jarak itu ternyata belum mampu mengurangi antrean yang setiap hari membludak karena kapasitas yang disediakan masih dibatasi untuk tiap perjalanan.

Maka dari itu PT KAI berharap ada kebijakan baru dari Kementerian Perhubungan terkait batas kapasitas angkut KRL.

Diketahui kapasitas KRL dapat ditingkatkan dari 45 persen menjadi 60 persen sesuai SE DJKA No 14 Tahun 2020, penambahan ini diusulkan seletah dilakukan evaluasi oleh berbagai pihak terkait.

Per 8 Juni 2020 lalu, telah ditetapkan maksimal kapasitas angkut KRL adalah 45 persen, dan sejak itu pula PT KAI melakukan antisipasi kepadatan di kereta dan stasiun dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

“Apabila kapasitas ditingkatkan menjadi 60 hingga sekitar 100 persen, maka antrean penumpang KRL akan berkurang. Meski ada penambahan kapasitas angkut, PT KAI tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat seperti yang sudah dilakukan di masa pandemi Covid-19,” tandasnya.

Penumpang KRL Naik 7 Persen

Pada Senin (6/7/2020), jumlah penumpang KRL yang dilayani hingga pukul 10.00 mencapai 166.044 orang, atau meningkat 7 persen dibanding periode yang sama pada hari Senin minggu lalu yaitu 155.555 orang.

Didiek mengimbau agar masyarakat pengguna KRL menghindari jam-jam sibuk untuk berangkat. Masyarakat juga diminta memantau sosial media @commuterline dan aplikasi KRL Access untuk mengetahui kondisi antrean di sejumlah stasiun.

Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada para penumpang KRL karena harus mengantre dan menambah waktu perjalanan.

“Antrean ini kami lakukan menjalankan kebijakan physical distancing untuk mencegah penyebaran Covid-19,” tutupnya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!