Connect with us
PERTAMINA

Agrobisnis & Pangan

Anak Perusahaan Non PTPN III Juga Dirombak

Alfian Setya Saputra

Published

on

Anak perusahaan

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Anak perusahaan non PTPN di jajaran manajemen Grup PTPN, Holding PT Perkebunan Nusantara III (Persero) juga mengalami pergantian jajaran Direksi dan struktur organisasi eksekutif.

Totalnya ada sepuluh anak usaha non PTPN yang mengalami perombakan jajaran Direksi dan struktur organisasi, yaitu PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), PT Industri Karet Nusantara (IKN), dan PT ESW Nusa Tiga (ESW).

Kemudian PT Kawasan Industri Nusantara (KINRA), PT RS Sri Pamela Medika Nusantara (SPMN), PT Industri Nabati Lestari (INL), PT LPP Agro Nusantara (LPPAN), PT Bio Industri Nusantara (BIONUSA) dan PT Sarana Agro Nusatara (SAN).

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (Persero), Muhammad Abdul Ghani menyerahkan langsung Surat Keputusan (SK) tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Jajaran Direksi Anak Perusahaan non PTPN pada Selasa, (16/6/2020) di Kantor Pusat Holding di Jakarta.

“Setiap anak perusahaan non PTPN juga perlu melakukan evaluasi kinerja agar tetap tumbuh dan dapat bersaing. Karena persaingan bisnis di era sekarang ini semakin ketat, maka penting melakukan perbaikan secara terus menerus, sehingga kinerja perusahaan semakin baik,” kata Ghani.

Ghani menyatakan, transformasi yang juga dilakukan di anak usaha  non PTPN bertujuan agar Anak Perusahaan daapt bertahan dan tetap unggul dalam persaingan.

Dengan perombakan jajaran ini juga diharapkan kinerja Anak Perusahaan non PTPN dapat optimal, sehingga dapat memberi kontribusi besar bagi perekonomian nasional.

“Pergantian beberapa Direksi dan struktur organisasi Anak Perusahaan non PTPN ini sejalan dengan program transformasi perusahaan, yang berkomitmen memperkuat kinerja anak perusahaan untuk mencapai target perusahaan,” ujar Ghani dalam keterangan pers.

Dalam transformasi bisnis perusahaan, tegas Ghani, terdapat 6 Program Prioritas Utama yang harus diterapkan oleh Anak Perusahaan PTPN dan non PTPN, baik yang inti bisnisnya adalah perkebunan maupun yang bukan.

“Atas kerja keras dan pengabdiannya, kami mengucapkan terima kasih kepada jajaran Direksi yang lama. Kami optimis akan ada perubahan positif dalam proses transformasi di lingkungan Anak Perusahaan non PTPN,” ujar Ghani.

Untuk diketahui, PTPN III merupakan BUMN sektor usaha agro bisnis, terutama komoditas kelapa sawit dan karet. Saat ini Perseroan secara konsolidasi menjadi salah satu perusahaan perkebunan terbesar di dunia dengan didominasi tanaman kelapa sawit seluas 552.888 hektar, tanaman karet 154.737 hektar, teh 30.279 hektar dan tebu 53.946 hektar. []

Agrobisnis & Pangan

Industri Non Kayu Mulai Dikembangkan Perum Perhutani

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Industri non kayu

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Industri non kayu mulai dikembangkan oleh Perum Perhutani dengan menggandeng perusahaan pelat merah lain. Langkah yang ditempuh oleh Perum Perhutani adalah kerjasama tanaman Agroforestry Tebu dengan PTPN XI di wilayah Resort Pemangkuan Hutan Teguhan Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Rejuno Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Saradan.

Luas tanaman Agroforestry Tebu yang digarap terdiri dari dua petak yaitu petak 118a seluas 18,00 hektar dan petak 123 seluas 13,00 hektar.

Direktur Utama Perum Perhutani Wahyu Kuncoro meninjau lokasi kerjasama tanaman Agroforestry Tebu ini bersama Sekretaris Perusahaan Asep Rusnandar, Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Timur Oman Suherman beserta jajaran lainnya, beberapa waktu lalu.

Menurut Wahyu Kuncoro, kerjasama antar BUMN ini merupakan pengembangan bisnis Perhutani dari sektor industri non kayu.

Hal ini untuk membantu Pemerintah dalam peningkatan ketahanan pangan, karena gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang masih banyak ditutupi dari produk impor.

“Kami bersinergi dengan PTPN X dan PTPN XI serta pihak swasta di wilayah Jawa TImur tentang penggunaan dan pemanfaatan kawasan hutan untuk mendukung ketahanan pangan. Dalam kerjasama ini kami juga melakukan penanaman kayu dan tebu di area lahan hutan yang selama ini belum dimanfaatkan dengan maksimal, luasnya mencapai 11.197 Hektar,” kata dia melalui siaran pers, Selasa (11/8/2020).

Kerjasama ini, sambung menggunakan payung hukum Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P81/2016 yang mengutamakan prinsip saling menguntungkan.

“Jadi kebutuhan pabrik gula bisa terpenuhi dan kita bisa melakukan reboisasi (penanaman kembali) hutan dengan baik dan belajar berbisnis tebu. Ini sekaligus dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dari hasil industri non kayu,” jelas Wahyu.

Pengembangan Industri Non Kayu

Kedepannya BUMN yang bergerak di sektor kehutanan ini akan meningkatkan kerjasama dengan bentuk tripartit antara Perhutani, PTPN, swasta dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Dalam hal ini Perhutani sebagai penyedia lahan, sementar pembiayaan dan pengolahan tebu menjadi gula ada di PTPN dan swata, sementara tenaga pengelolaan lahan ada di LMDH.

“Dengan skema kerjasama ini kami berharap akan mampu menguntungkan semua pihak. Ini juga merupakan upaya Perhutani untuk memberdayakan masyarakat sekitar hutan dan mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraannya warga sekitar,” harapnya.

Dalam kunjungan ini, Wahyu juga menyempatkan berkunjung ke Wana Wisata Srambang Park di kawasan hutan Perhutani di Desa Manyul, Girimulyo Kabupaten Ngawi. Kemudian mengunjungi industri Pabrik Minyak Kayu Putih serta Pabrik Gondorukem dan Terpentin di Sukun Ponorogo. []

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Produksi Pupuk Pusri Tembus 2,3 Juta Ton, Lampaui Target!

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Produksi pupuk

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi pupuk PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang di tahun buku 2019 mencapai 2,30 juta ton. Volume produksi ini mencapai 106 persen dari target rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) yang ditetapkan sebanyak 2,17 juta ton.

Manager Humas PT Pusri Palembang, Soerjo Hartono, mengatakan produksi tersebut mencakup pupuk urea dan pupuk NPK (Nitrogen, Fosfor, Kalium)

“Untuk tahun 2019 lalu, total produksi pupuk yang kami hasilkan sebanyak 2,30 juta ton. Rinciannya, pupuk urea sebanyak 2,20 juta ton, dan pupuk NPK 105.293 ton,” jelas Soerjo dalam keterangan resminya, Jumat (7/8/2020).

Untuk produksi non pupuk yaitu amoniak mencapai 1,44 juta ton atau 98 persen dari target RKAP.

Di bidang penjualan, perusahaan pelat merah ini telah menyalurkan pupuk total sebanyak 2 juta ton, yang mencakup 1,20 juta ton pupuk bersubsidi dan 797.128 ton pupuk nonsubsidi.

Sementara untuk penjualan amoniak tercatat sebanyak 89.224 ton sepanjang tahun 2019.

Menurut Soerjo, pihak perusahaan tetap optimis kinerja dapat lebih optimal sesuai penugasan pemerintah, terlebih PT Pusri tengah melakukan revitalisasi pabrik Pusri III-B.

“Proyek revitalisasi pabrik ini akan meningkatkan daya saing perusahaan. Kami juga tengah melakukan transformasi digital di berbagai lini usaha,” jelas Soerjo.

Untuk kinerja Corporate Social Responsibility (CSR) di tahun 2019, secara keseluruhan penyaluran dana kemitraan sudah mencapai 100 persen.

Kolektabilitas program kemitraan dari CSR anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) ini mencapai 70,38 persen dengan predikat baik.

“Pencapaian ini merupakan wujud komitmen PT Pusri untuk berkontribusi bagi kemajuan Usaha Mikro Kecil dan Menengah, dan membina komunitas demi kemandirian masyarakat yang ada di sekitar perusahaan,” jelas dia.

Selanjutnya di bidang tata lelola perusahaan, PT Pusri menghasilkan skor 91,99 persen dengan predikat sangat baik.

Meski meraih kinerja yang positif di tahun 2019, bukan berarti tidak ada tantangan yang dilalui. Namun pihak perseroan terus memaksimalkan berbagai upaya sehingga membuahkan pencapaian yang cukup baik.

“Berbagai upaya itu tetap kami lakukan saat ini terlebih dalam menghadapi situasi pandemi yang masih terjadi,” tandasnya.

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Produksi Garam Fokus Jaga Kualitas dan Penuhi Kebutuhan Nasional

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Produksi garam

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi garam dari PT Garam (Persero) terus dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan garam nasional. Salah satu langkah dalam menjaga ketersediaan pangan untuk mendukung swasembada pangan nasional yaitu dengan beroperasinya pabrik PT Garam (Persero) di Camplong – Sampang.

Pabrik ini memiliki kapasitas 63.000 ton garam per tahun dan mampu menghasilkan garam halus karungan dan halus kemasan dengan kadar NaCl di atas 97 persen.

Pabrik di Camplong – Sampang ini pun menjadi salah satu pabrik andalan PT Garam (Persero) untuk mengembangkan bisnis garam olahan.

Plant Manager PT Garam (Persero) Camplong, Anang Siswanto, mengatakan hasil produksi garam pabrik ini juga telah lulus audit Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dan mendapat izin kemasan produk.

Menurutnya, di masa pendemi covid-19, pihaknya selaku BUMN tetap berupaya dalam memenuhi kebutuhan konsumen dengan kualitas garam yang baik untuk keamanan pangan.

“Menjaga kualitas produksi garam menjadi prioritas kami agar tidak terkontaminasi dengan penerapan Program Good Manufacturing Practice (GMP) dan Total Food Safety,” ujar Anang, Rabu (05/08/2020).

Hal senada disampaikan General Manager Industri Garam PT Garam (Persero), Alfian Hudan Nuzula, menurutnya, menjaga kualitas produk sudah menjadi komitmen perusahaannya.

“Komitmen kami sebagai perusahaan yang bergerak di industri olahan garam memang harus memastikan bahwa seluruh proses produksi berjalan secara higienis. Terhindar dari segala bentuk kontaminasi sehingga menghasilkan produk garam yang berkualitas,” kata Alfian.

Dengan komitmen tersebut, Perusahaan pelat merah ini akan siap untuk bersaing di pasar global dan memenuhi kebutuhan garam nasional.

Target Produksi Garam Turun

Di sisi lain, PT Garam Kabupaten Sampang Madura menarget hasil produksi garam tahun ini sebanyak 85 ribu ton, angka tersebut menurun dibandingkan hasil produksi tahun 2019, sebanyak 95 ribu ton.

Manager Area Sampang PT Garam (Persero), Ahmad Faisol mengatakan produksi garam sebanyak 85 ribu ton ini adalah hasil dari lahan PT garam sendiri.

Menurut Faisol, produksi normal setiap tahun memang sekitar 95 ribu ton, namun tahun ini ada penurunan target karena faktor cuaca yang kurang baik.

“Biasanya, dua bulan sebelumnya PT garam sudah mulai produksi sedangkan untuk tahun ini masih baru produksi. Kita kehilangan waktu dua bulan. Biasanya kita sudah mulai produksi di bulan Juni, sedangkan untuk tahun ini masih baru produksi,” ucapnya.

Dengan kondisi cuaca yang kurang baik, Faisol pesimis hasil produksi garam tahun ini bisa mencapai jumlah target yang sudah ditentukan, meskipun masa produksi garam tahun ini diprediksi hingga akhir tahun.

“Kami optimisnya produksi garam tahun ini hanya di angka 70 ribu ton, itu berdasarkan hitungan kita jika produksi garam sampai bulan Desember,” tandasnya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!