Connect with us
banner pln 2023

CEO TALK

276 Tahun Pos Indonesia: Membangun Transformasi Untuk 276 Tahun Ke Depan

Published

on

276 Tahun

MEDIABUMN.COM, Jakarta – 276 tahun menjadi perjalanan panjang bagi PT Pos Indonesia (Persero) untuk hadir melayani seluruh kebutuhan perposan di tanah air. Dengan pasang surut yang dialami dari masa ke masa, tentu telah mengasah pengalaman dan kemampuan perusahaan dalam menghadapi segala bentuk tantangan.

Seperti saat ini, dimana Pos Indonesia tengah dihadapi oleh persaingan yang begitu ketat. Namun dengan semangat transformasi yang tengah dibangun, Pos Indonesia kian solid dan optimis menghadapi berbagai tantangan dengan menghadirkan beragam inovasi yang tentunya sangat relevan dengan kebutuhan zaman.

Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Faizal Rochmad Djoemadi mengungkapkan filosofinya dalam memaknai usia perusahaan. “Setiap pondasi harus lebih dalam dan besar dari bangunannya. 276 tahun itu bermaksa sebagai akar dan pondasi yang kokoh untuk membuat bangunan yang lebih tinggi lagi ke depan,” ujar Faizal.

Faizal berupaya membandingkan kondisi perusahaan yang mampu bertahan selama lima tahun dan bertahan selama ratusan tahun. Menurut dia, kekuatan besar tentu berada pada perusahaan yang mampu bertahan ratusan tahun. Hal itu pula yang terjadi pada Pos Indonesia.

Sejarah mencatat keberadaan Pos Indonesia begitu panjang, Kantor Pos pertama didirikan di Batavia atau saat ini Bernama DKI Jakarta pada 26 Agustus 1746. Tujuannya, untuk menjamin keamanan surat-surat penduduk, terutama bagi pedagang, dari kantor-kantor di luar Jawa dan Belanda.

Pos Indonesia mengalami beberapa kali perubahan status, mulai dari Jawatan Post, Telegraph, dan Telephone atau Jawatan PTT, kemudian menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi atau PN Postel.

Seiring perubahan di sektor Pos dan Telekomunikasi, PN Postel kembali mengalami perubahan status menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro atau PN Pos dan Giro pada tahun 1965.

Tak berhenti sampai di sana, pada 1978, perusahaan Kembali berubah menjadi Perum Pos dan Giro. Sejak itu ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos dan giropos, baik untuk hubungan dalam negeri maupun luar negeri. Setelah berstatus Perum selama 17 tahun, pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero) hingga saat ini.

Seiring berjalannya waktu, Pos Indonesia telah berkembang hingga ke 58.700 titik layanan yang menjangkau 100% kabupaten/kota. Jejaring Pos Indonesia juga sudah memiliki lebih dari 3.800 Kantor pos daring atau online, serta dilengkapi Mobile Postal Services di beberapa kota besar.

Untuk perayaan hari jadi Pos Indonesia kali ini, perusahaan memilih tema “Untuk 276 Tahun ke Depan”. Hal itu berarti, perusahaan tak ingin terus bernostalgia dengan menengok ke masa lalu, melainkan ingin menjadikan masa lalu sebagai pelajaran yang berarti dan meletakkan pondasi kokoh tersebut untuk menjalani masa depan dan menjawab berbagai tantangan yang ada di depan mata.

TRANSFORMASI JADI KUNCI

Meski diterpa oleh berbagai guncangan berupa perubahan dan disrupsi dari berbagai sisi, Pos Indonesia tetap bertahan dan tak pernah sekalipun tertidur. Hal itu menunjukkan kekuatan besar yang dimiliki Pos Indonesia.

Disrupsi akibat perubahan teknologi tak hanya sekali dialami oleh Pos Indonesia, melainkan berulang kali. Mulai dari munculnya teknologi telepon dan pesan singkat, kemudian internet, hingga ke platform digital yang berteknologi canggih seperti, aplikasi transportasi, logistik, dan layanan finansial. Seluruhnya mengubah kondisi bisnis Pos Indonesia menjadi lebih sulit, namun tak sekalipun perusahaan keok dibuatnya.

Kunci pertahanan Pos Indonesia tak lain adalah melakukan sejumlah transformasi. Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Faizal Rochmad Djoemadi mengungkapkan, perusahaan menjalani transformasi pada tujuh elemen. Ketujuh elemen yang dimaksud antara lain:

(1) Transformasi pada sektor bisnis, yang dilakukan demi meningkatkan pangsa pasar di bidang bisnis inti, yaitu kurir, jasa keuangan dan logistik.

(2) Transformasi produk dan saluran, yang dilakukan melalui pembaruan operasional dan layanan teknologi informasi dari semula fisik menjadi digital.

(3) Transformasi proses, yaitu melakukan program transformasi proses dari manual menjadi otomasi dengan digitalisasi dan sentralisasi proses.

(4) transformasi teknologi. yaitu untuk meningkatkan kelincahan, ketersediaan, keandalan, dan penguatan fitur pada setiap platform yang dimiliki Pos Indonesia.

(5) Transformasi sumber daya manusia (SDM), melalui program transformasi dengan membangun SDM yang kompetitif. Selain itu, membangun kinerja yang produktif, dengan membangun sistem manajemen karyawan.

(6) Transformasi organisasi dengan memperkuat proses penjualan dan operasional.

(7) Transformasi budaya, yaitu dalam rangka mengubah dari perilaku menjadi karakter untuk membangun soliditas dan tim yang terpercaya. []

Continue Reading

BNI

Label

Copyright © 2023 MEDIABUMN.COM