Connect with us
PERTAMINA

Farmasi

2019 Holding BUMN Farmasi Terbentuk

MediaBUMN

Published

on

Holding BUMN farmasi

Holding BUMN farmasi akan terbentuk di tahun 2019 menyusul telah dibentuknya holding BUMN disektor energi, konstruksi dan perumahan. Holding BUMN farmasi nantinya akan diisi oleh perusahaan farmasi seperti Kimia Farma, Indofarma, Phapros dan Biofarma.

Target pembentukan holding BUMN farmasi menurut agenda akan dilakukan pada akhir tahun 2018, namun sampai dengan saat ini belum terealisasi lantaran masih adanya pembahasan secara teknis.

TUNGGU ARAHAN
Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, Honesti Basyir menyatakan jika pihaknya sangat optimis jika holding BUMN farmasi akan terbentuk di tahun 2019. Menurutnya hal ini tinggal menunggu waktu saja karena masih dilakukan pembahasan di kementerian BUMN khususnya secara teknik.

Baca Juga : Holding BUMN Dongkrak Aset BUMN Lebih Bertaji

“Masin tunggu arahan dari Kementerian BUMN. Karena masih dalam tahap pembahasan yang sangat teknis,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan untuk membentuk holding ada beberapa proses yang harus dilalui antara lain yaitu, evaluasi dan analisa legalitas serta proses finansial.

Dari internal Kimia Farma sendiri, imbuh Honesti, tengah mempersiapkan untuk tergabung dalam holding BUMN farmasi jika memang itu merupakan keputusan dari opemegang saham dalam hal ini yaitu Kementerian BUMN.

“Kami ikuti semua proses dan arahan dari Kementerian BUMN,” tutupnya. []

Farmasi

Produksi Alat PCR Mulai Digarap PT Bio Farma

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Produksi alat PCR

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi alat PCR (Polymerase Chain Reaction) berbasis real time untuk mendeteksi virus corona (covid-19) mulai dilakukan oleh PT Bio Farma. Kabar baik ini disampaikan oleh Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga pada Selasa (12/5/2020).

Arya Sinulingga mengatakan, PT Bio Farma sudah memulai produksi alat rapid test PCR tersebut. Diharapkan alat PCR ini bisa memenuhi kebutuhan laboratorium tes Corona di Indonesia, karena selama ini alat PCR masih diimpor oleh Kementerian BUMN dari negara lain.

“Ini sudah mulai dikerjakan oleh Bio Farma dengan target bisa memproduksi 200 ribu test kit per bulannya. Selama ini kan kita masih impor, ini sudah bisa kita produksi 50 ribu setiap minggu atau 200 ribu sebulan,” kata Arya dalam pernyataannya, Selasa (12/5/2020).

Dalam keterangan resmi dari Bio Farma, kapasitas produksi Alat PCR ini bahkan masih bisa diperbesar dengan menambah peralatan otomatis untuk melakukan proses produksi.

Menurut Arya Sinulingga, produksi alat PCR ini sejalan dengan langkah Kementerian BUMN untuk terus mendorong perkembangan industri farmasi lokal ke depannya, terutama untuk memenuhi berbagai keperluan alat kesehatan (alkes).

“Saat ini untuk produksi alat PCR di Bio Farma memang masih manual menggunakan operator dengan jumlah Personil 15-18 orang, tapi produksi itu masih bisa diperbanyak. Dalam hal ini Kementerian BUMN terus mendorong supaya industri farmasi lokal itu berkembang dan mulai produk-produk lokalnya terus ditambahkan,” katanya.

Untuk diketahui, produksi alat PCR Bio Farma telebih dahulu telah dilakukan ujicoba oleh Tim Nusantics dan diulang oleh tim Bio Farma untuk menentukan sensitivitas (LoD) dan spesifitasnya. Semakin kecil LoDnya, maka semakin sensitif rapid test yang dibuat.

Sedangkan semakin besar persentasi spesifitasnya, maka semakin baik kemampuan rapid test tersebut dalam membedakan gen virus dengan virus sejenis.

“Hasil uji pendahuluan menunjukkan, rapid test ini memiliki tingkat sensitivitas (LoD) sebanyak 50 copies, artinya rapid test dapat mendeteksi 50 copy gen virus dan jumlahnya masih bisa turun lagi setelah dilakukan validasi ulang.” Kata dia.

Sementara, tingkat spesifitasnya mencapai 100 persen. Dengan demikian, akurasi rapid test yang diproduksi Bio Farma mencapai 95 persen. Hasil studi ini masih diuji kembali oleh laboratorium-laboratorium rujukan dengan prototype awal untuk memperkuat hasilnya. []

Continue Reading

Farmasi

BUMN Farmasi Diminta Erick Thohir Temukan Vaksin Corona

EKO PRASETYO

Published

on

BUMN Farmasi

MEDIABUMN.COM, Jakara – BUMN Farmasi diharapkan bisa segera menemukan vaksin virus corona atau Covid-19 sehingga dapat mengatasi masa pandemi yang masih terjadi saat ini. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berharap sejumlah perusahaan BUMN farmasi terus berupaya untuk menemukan kebutuhan obat tersebut.

Menurut Erick, di masa pandemi saat ini harus menjadi kesempatan bagi Indonesia lebih mandiri dan mampu memproduksi alat-alat kesehatan.

“Untuk pemenuhan alat kesehatan dalam penanganan pasien positif covid-19 kami harapkan agar dapat dipenuhi oleh perusahaan farmasi milik BUMN,” ujarnya saat menyerahkan bantuan ke Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, Sabtu (9/5/2020).

Pada kegiatan itu, Menteri BUMN menyerahkan bantuan berupa rapid test kit 10.000 buah, ventilator non-invasive 10 unit.dan ventilator invasive 5 unit. Kemudian, alat pelindung diri (APD) baju hazmat 50.000 buah, masker bedah 40.000 buah, masker N-95 3.000 buah, sarung tangan 2.000 buah, mop cap 1.000 buah dan hydrocloroquine 20.000 tablet. Bantuan ini, kata Erick adalah bentuk kepedulian BUMN yang tergabung dalam BUMN Peduli terhadap pandemik Corona.

Menurutnya, kedatangannya ini merupakan salah satu kontribusi Kementerian BUMN bagi masyarakat Indonesia khususnya Jawa Timur. Selain berkontribusi melalui pemberian bantuan, Menteri Erick juga menuturkan bahwa BUMN masih terus menggerakkan BUMN Farmasi dan bidang kesehatan untuk penemuan vaksin hingga produksi rapid test dan ventilator.

“Kita terus mencoba untuk membuat vaksin corona, seperti BUMN Biofarma dan Indofarma terus kita dorong untuk menemukan vaksin. Juga untuk penyediaan beberapa alat seperti rapid test, mulai kita produksi sendiri,” jelasnya.

Merespon niat baik dari Menteri Erick tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut bahwa ini merupakan berita baik bagi semua pihak. Karena ketika BUMN farmasi berhasil menciptakan berbagai alkes untuk kebutuhan dalam negeri, maka akan mengurangi impor alkes dari Negara lain.

Ia pun berterima kasih atas kepedulian Kementerian BUMN pada penanganan wabah Covid-19 di daerah tersebut. Berbagai bantuan ini akan segera didistribusikan pada sejumlah rumah sakit rujukan.

“Terima kasih atas dukungan dari Kementerian BUMN. Kami juga berdoa dan berharap mudah-mudahan Allah SWT segera mengangkat wabah covid-19 ini. Tadi Pak Menteri juga menyampaikan, saat ini BUMN sedang ada memproses alat-alat kesehatan dan kebutuhan farmasi. Saya rasa tentunya menjadi good news untuk kita semua,” ungkap Gubernur Khofifah. []

Continue Reading

Farmasi

Kimia Farma Pangkas Belanja Modal Jadi Rp1,44 Triliun

EKO PRASETYO

Published

on

belanja modal

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Kimia Farma pangkas belanja modal sebagai salah satu langkah efisiensi biaya di tengah pandemi Covid-19. Kimia Farma akan mengurangi anggaran belanja modal atau capital expenditure yang sebelumnya sebesar Rp 547 miliar menjadi Rp 1,44 triliun di tahun ini.

Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk Verdi Budidarmo mengatakan, PT Kimia Farma sebelumnya mengalokasikan jumlah belanja modal sebesar Rp 1,98 triliun.

“Kimia Farma pangkas belanja modal atau capex menjadi Rp 1,44 triliun. Ini strategi perusahaan untuk antisipasi pandemi covid-19 tahun ini,” ujar Verdi, Selasa (21/4).

Selain itu, Anggota Holding BUMN Farmasi ini juga menurunkan jumlah pinjaman berbunga secara di tahun ini. Menurut Verdi, jumlah pinjaman berbunga tahun ini akan diturunkan sebesar Rp 837 miliar menjadi Rp 7,43 triliun.

“Kimia Farma tak hanya memangkas belanja modal, juga menerapkan efisiensi dengan memotong beban usaha,” kata dia dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR-RI secara virtual.

Tercatat, Kimia Farma memangkas anggaran beban usaha pada tahun 2020 sebesar Rp 208 miliar menjadi Rp 3,55 triliun. Sebelumnya anggaran beban usaha sebesar Rp 3,76 triliun. Tahun ini, KAEF juga fokus untuk mendukung pemerintah dalam menangani Covid-19 dalam bidang logistik obat, alat kesehatan, dan layanan kesehatan.

“Dari bidang logistik obat, alkes dan layanan kesehatan ini target pendapatan perusahaan tahun ini sebesar Rp 11,7 triliun,” ujarnya.

Dari periode 2017 hingga 2019, besaran belanja modal Kimia Farma selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Tahun 2017 KAEF mengucurkan belanja modal sebesar Rp 788 miliar, pada 2018 naik jadi Rp 1,35 triliun, dan di tahun 2019 meningkat lagi hampir dua kali lipat mencapai Rp 2,53 triliun.

“Salah satu penggunaan belanja modal adalah untuk mengintegrasikan beberapa pabrik dengan memindahkan pabrik yang berlokasi di Medan ke Banjaran. Hal ini dilakukan agar lebih efisien. Kimia Farma juga membangun pabrik rapid test di Bali,” jelas dia.

Dalam dua tahun ini, Kimia Farma juga tengah membangun pabrik bahan baku obat di Cikarang dengan menggandeng mitra dari Korea Selatan. Kimia Farma bahkan menggandeng perusahaan Arab Saudi untuk membuka jaringan toko di Mekkah dan Madinah.

Kemudian di tahun 2019 lalu, KAEF juga menggunakan dananya guna melakukan akuisisi Phapros. Dan terus berupaya menguatkan jaringan retail. “Sejauh ini sudah ada 41 toko milik Kimia Farma di Arab Saudi. Serta melakukan pembangunan produksi injeksi yang ada di Pulo Gadung,” pungkasnya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM